Kamu Terlalu Fokus pada Diri Sendiri Saat Bicara?

Sadar tidak kadang kita baru saja “memonopoli” obrolan?

Skenarionya begini: Kamu lagi ngobrol santai. Awalnya biasa aja. Tapi entah kenapa, topik pembicaraan perlahan-lahan bergeser ke arah kamu. Kamu cerita panjang lebar tentang liburanmu, masalah kerjamu, atau pendapatmu soal film terbaru. Detailnya sampai ke hal-hal kecil yang mungkin cuma kamu yang peduli.

Lawan bicaramu tetap mengangguk. Dia masih tersenyum. Tapi matanya mulai kosong. Dia cuma jadi penonton dalam pertunjukan satu orang: Kamu.

Ini bukan berarti kamu orang yang narsis atau egois banget. Seringkali, ini terjadi karena ketidaksadaran. Kita terlalu sibuk ingin menjelaskan siapa diri kita, ingin menunjukkan bahwa pengalaman kita valid, atau sekadar haus untuk dipahami. Kita lupa satu hal dasar: Orang di depan kita juga punya suara.

Percakapan sehat itu seperti permainan tenis, bukan monolog di atas panggung. Ada bola yang dilempar, ada bola yang dikembalikan. Jika kamu terus-menerus memukul bola tanpa memberi lawan kesempatan membalas, permainannya mati. Obrolannya jadi hambar.

Coba cek kebiasaanmu. Setelah kamu selesai bercerita panjang lebar, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu langsung lanjut ke cerita berikutnya? Atau apakah kamu berhenti sejenak, menarik napas, dan melempar pertanyaan balik? “Kalau kamu gimana?” atau “Pernah ngalamin hal serupa nggak?”

Memberi ruang itu seni. Itu tanda bahwa kamu menghargai keberadaan mereka sama besarnya dengan keinginanmu untuk didengar. Interaksi yang berkualitas lahir dari keseimbangan. Jangan jadikan temanmu sekadar audiens pasif. Jadikan mereka mitra bicara. Karena pada akhirnya, koneksi terbaik terjadi ketika kedua belah pihak merasa sama-sama terlihat dan sama-sama didengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *